Pages

Thursday, August 21, 2014

Sekarang 18 tahun?

Postingan ini terlalu cepat mungkin karena hari ini belum hari ulang tahunku. Biasanya aku lupa sama hari ulang tahunku *sok seleb, tapi karena sebelum ulang tahun aku sudah dapat hadiah duluan, jadi ya mau pura-pura lupa juga sudah nggak asik...

Aku dapat hadiah novel dari sahabatku Tsaltsa Nurbaiti, yang bener-bener nggak pintar bohong. Hari itu tanggal 13 Agustus, Sasa ajak aku ke intermedia. Aku memang mau beli perlengkapan untuk ospek, dan bodohnya aku tidak tanya Sasa ke intermedia mau beli apa. Di sana dia terus-menerus nanya hal yang sama, "Rim, ini lucu ya? Kamu suka nggak?" atau "Rim, ini lucu loh. Kira-kira kamu butuh ini nggak?". Aku curiga lah pasti, mengingat ini bulan Agustus, jadi aku jawab singkat aja, "Iya lucu, tapi aku nggak butuh" dan "Enggak butuh Sa, aku udah punya". Sambil cari-cari barang untuk ospek, Sasa terus muterin intermedia dan aku baru sadar, jangan-jangan Sasa ke intermedia gak niat beli apa-apa buat dia sendiri tapi cuma mau cari kado sekaligus nganterin aku aja. Duuh merasa berdosa aku atas kebaikannya.

"Sa, kamu mau beliin aku kado ya? Hayo ngaku!"
"Iya, makanya aku ke sini kan mau beliin kamu kado"
"Ya ampun, kan masih lama. Enggak mau ah, lagian aku kan nggak pernah ngasih kamu apa-apa"
"Iih nggak pernah ngasih apanya? Pokoknya aku mau kasih kamu kado. Soalnya aku tgl 22 di Jakarta"
*astaga makin berdosa aku, soalnya di tahun ini aku nggak ngasih kado ke Sasa...

Akhirnya setelah ditanya Sasa berulang-ulang, Sasa beli novel yang memang sudah lama aku suka sih. Habis aku nggak enak, ngegantung sahabat sendiri di toko buku dan malah kukerjain dengan nunjukin semua novel bagus(karena niat buat Sasa bingung mau beliin yg mana), jahatnya akuuu. Terus kantung belanjaannya langsung dia kasih ke aku setelah dibayar, katanya, "Dibaca ya!". Aku bilang, "Iya aku baca, tapi kalau udah selesai nanti aku kembaliin ya". Lalu jadilah kita "Iya" "Enggak" "Iya" "Enggak". Sampai di rumah baru deh aku menyerah dan terima hadiahnya. Terima kasih banyak, Sa :*

Nah tanggal 20 Agustus, hari ulang tahun pernikahan Mama dan Bapak. Adikku yang paling kecil, Nindya, menyiapkan hadiah untuk Mama dan Bapak. Hadiahnya buatan dia sendiri dan ada suratnya. Lucunya ya, Nindya itu memang seperti aku bangeeet. Dia kasih ke Bapak di tanggal 19, "Bapak! Ini hadiah ulang tahun pernikahan buat Bapak dan Mama!". Eeeh Bapak malah nolak secara tidak langsung, 

"Lhaa, kan masih besok?"
"Iiih biarin sih, akunya males kalau besok"
"Besok aja ya? Kasihnya ke Mama"
Saat itu aku tahu sekali seperti apa rasa sakit yang Nindya rasakan...

Tanggal 20 Agustus, begitu Mama pulang kerja, Nindya langsung mencegat Mama dengan hadiahnya, "Selamat hari ulang tahun pernikahan, Ma!". Mama sangat berbeda dengan Bapak, ekspresi Mama waktu menerima hadiah dari Nindya sudah cocok jadi pemain sinetron. Aku juga dulu paling senang kasih hadiah ke Mama ya karena itu. Setelah itu Nindya berlari ke arahku dan membawa hadiah lain, "Mbak Rim, aku juga punya kado untuk Mbak Rima! Selamat ulang tahun!". Aku sedikit kaget, kukira Nindya nggak akan kasih aku hadiah, karena tahun kemarin aku janji kasih hadiah boneka buatanku sendiri, eeh tapi belum dijahit sudah hilang bonekanya. Aku cium dan peluk heboh lah jadinya sampai Nindya risih.

"Waaah makasih Nindyaaaa, so sweeet~ Tapi kan ulang tahunnya bukan sekarang, nanti aja ya kasihnya"
"Iiih biarin sih, aku maunya ngasih sekarang"
"Lha kan sebentar lagi, nanti aja ya kasihnyaa"
"Iih nggak mau, nanti aku males"
"Yaudah makasih ya adekkuuu, tapi nanti tetep nyanyi kayak di 'we sing for you' ya! Kamu jadi ketuanya"
"Idiih males"
"Uuuuuh Nindya kok gituuu"

Aku sepertinya dapat tempat pensil beserta isinya, tapi aku pura-pura tidak tahu, "Hmm apa ini tempat pensil ya?". Oh ok, aku payah dalam berpura-pura. Hadiahnya dia bungkus sendiri dengan kertas kado, dibentuk tas gitu. Aku terharu, aku saja kalau kasih kado ke teman bahkan sahabat, nggak pernah bungkus sendiri (karena memang nggak bisa ngebungkus kado...). Terima kasih banyak adikkuuu, hadiahnya aku buka pas aku ulang tahun ya, semoga aku ada umur. Aamiin.

*Hadiah dari mereka berdua mau aku potret dan kuselipin di postingan ini, tapi kameraku entah ketelisut di mana.

Monday, July 14, 2014

Hobi Baru yang Sudah Lama?

Helloooow, rasa-rasanya karena lama tidak menulis, kemampuan menulisku jadi hilang. Padahal kelas 12 kemarin banyak hal seru yang bisa kubagi di blog, tapi kepadatan jadwal les menghambat itu semua, belum lagi hobi baruku yang sok selebriti di saat-saat mau UN, main kutek. Ya, kutek, pewarna kuku yang warnanya mampu membuatku tergila-gila untuk mengoleksinya, uuw. Entah bagaimana awal ceritanya aku bisa jatuh cinta dengan kuteks(halah), intinya Bapakku bilang itu mengganggu belajarku.

Mendekati UN, sekitar bulan Februari, aku pertama kali beli kutek online, dan itu harus satu pack isinya dua lusin. Kalap melihat warna-warna pelangi seperti nama barangnya 'Cherveen Rainbow', aku langsung beli. Begitu sampai, aaaaw semua warnanya cantik, langsung saja aku foto dan kukirim ke teman sebangku yang punya ketertarikan sama denganku, Afrina.

Besoknya, di sekolah banyak teman perempuan yang tahu kalau aku beli banyak kutek. Eh ternyata usut punya usut, Afrina nge-share foto kutek-kutekku ke path nya dengan caption 'Prima x_x'. Dari situ banyak yang nanya buat apa beli banyak, aku iseng aja jawab, sebagian mau kujual. Mendengar itu, teman-teman banyak yang mau beli. Ah dasar wanita, sama aja kita muehehe. Dari situlah otak bisnisku mulai bekerja, lumayan kan bisa buat beli kuteks lagi atau malah bisa beli peralatan
nail art yang aku ngebet-mau-beli-tapi-mahal.

Jadi begitulah ceritanya, sampai aku akhirnya jualan kutek dengan lebih murah dari pada di toko-toko aksesoris. Plus, aku jadi nail artist begginer dan di follow nail artist expert luar negeri!(cuma sedikit sih tapi expert loh, senangnya bukan main). Boleh yang mau lihat nail artku ada di instagram. Laluuuu, sampai akhirnya aku dapat nail art tools yang kuinginkan! Yuhuuuuw! Tapi akhirnya setelah UN selesai aku malah bosan, peralatan nail artku baru sekali kupakai dan kutek-kutekku berbalut debu karena tidak pernah dipakai lagi, sayang sekali. Makanya hari ini aku bersihkan semua dengan penuh kasih sayang, dan kutata sesuai warna.

nail art vintage roses ceritanya

para kutek berbaris dengan cantik setelah ditata ulang
*oh ya untuk daerah Cilegon atau mungkin Malang nantinya, yang mau pesan kuteks boleh follow twitterku yang ini kemarin sih kujual IDR 4000/pcs untuk yang 8 ml. Aku jual aseton tissue juga.

Setelah UN, kami kelas 12 disibukkan dengan persiapan acara perpisahan. Bukan hanya panitianya saja yang sibuk, tapi yang punya acara juga sibuk, terutama kaum perempuan. Aku sendiri juga sibuk, beli kain, buat design kebaya, cari penjahit, cari salon untuk dandannya nanti, cari sepatu, haduuuh. Mama nggak salah deh kasih aku julukan 'Miss Rempong'. Habis mau gimana lagi, yang lain juga sama ribetnya kok. Skip cerita tentang acara perpisahan ya.

Nah di sini awal mulanya hobi baruku yang kedua dan ketiga mungkin. Aku dan Cucu iseng cari-cari kosmetik buat perpisahan, tapi aku sih lebih tertarik ke lipstick. Kita ke hypermart, lihat tester lipstik, akhirnya mulai colak-colek deeh. Seru juga colek-colek lipstik di counter kosmetik, ini hobi baruku dan Cucu *eh ahaha. Di situ aku beli lipstick Pixy, harganya lupa, murah tapi. Aku suka banget, warnanya pink-merah, tapi dibibirku pink-peach gitu, sayangnya kurang pigmented(ceeesh, bahasa para blogger yang suka nge-review kosmetik katanya sih gitu, alias kurang keluar warnanya). Jadi aku putuskan untuk beli merk lain nanti.

Aku pun mulai baca review-review berbagai merk lipstik dan mulai mempelajarinya(ceess). Aku dapat pelajaran kalau warna lipstik yang sesuai untuk bibir gelap itu warna merah menengah, coklat menengah, dan ungu menengah(menengah=tidak gelap, tidak terang). Tetapi, aku baca juga, warna lipstik yang sesuai untuk jenis kulitku, ivory(menengah) itu oranye, pink tua, dan coklat muda. Aduh bingung mau beli warna apa. Sebelum akhirnya kuputuskan beli warna coklat, aku sudah hampir setiap hari mampir mal muter-muter sendirian lihat-lihat dan colek-colek lipstick tapi gak beli(ehe). Lipstick coklat yang kubeli itu Silky Girl, harganya juga murah. 

Waktu berjalan dan aku semakin gatal untuk mengoleksi lipstick warna lain, mungkin aku sempat terpikir untuk jadi lip-junkie(bahasa para blogger, semacam pengoleksi lipstik atau yang candu banget sama lipstick, kurang ngerti aku juga, tapi keren aja ahaha). Lalu aku iseng belanja onlen(lagi) tapi kali ini beli kosmetik merk lokal yang murah, Viva. Aku kalap beli banyak lipstik karena murah. Tapi sayang lipstik Viva membuat bibirku kering, tapi nggak ngelupas. Kering yang seperti itu bertahan sampai seminggu lebih, ganggu banget, jadi aku gak pakai lagi. Padahal warnanya pigmented.

Aku juga sempat kepikiran untuk membuat review lipstick yang kubeli, karena aku sendiri sangat berterima kasih dengan para blogger yang rajin mereview produk-produk kosmetik dan lainnya, jadi semacam ada pegangan sebelum beli. Ok postingan setelah ini akan ada review lipstick Viva. Selanjutnya mungkin ada lipstick dari Pixy, Silky Girl, Maybelline, dan Wardah. Kalau sempat mungkin aku juga kasih review beberapa lip care atau lip balm/gloss koleksiku, ada dari Oriflame, 
Maybelline, Nivea dan Lip Ice.

Oh ya waktu itu aku jalan-jalan lihat lipstik sama Afrina(teman sebangku, teman curhat gak jelas, si Nyai seniman, mama kucing, teman belanja, guru make up, dsb), dia melarang aku beli lipstik lagi. Katanya lipstikku udah terlalu banyak, belum lip balm/gloss, kan sayang keburu kadaluarsa, mending beli riasan untuk mata. Oh ok, Macing ada benarnya, tapi aku kan belum bisa merias wajah terutama bagian mata, baru bisa lipstikan aja u,u Ya tapi, hobiku yang satu ini harus dihentikan dulu. Tunggu reviewku aja yaaa~  xoxo

Viva lip gloss dan lipstick

Maybelline, Wardah, Pixy, Silky Girl

lip care

*sementara fotonya aja dulu yaa

Saturday, June 7, 2014

SNMPTN 2014 UB

Alhamdulillah, rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata begitu melihat kotak hijau di pengumuman snmptn tanggal 27 Mei kemarin. Hari yang paling ditunggu oleh semua anak kelas 12 SMA. Hari di mana bnyak yang update status "Degdeg-an" "Bismillah" "Semoga beruntung" dsb. Hari di mana tanggal di kalender berwarna merah, tetapi tempat lesku NF tetap masuk.

Jadi dari malam tanggal 26 Mei, aku masih melototi lepi, melihat timeline dengan kata kunci pencarian 'snmptn'. Karena katanya, pengumuman snmptn sudah bisa diakses tanggal 27 Mei 2014, pukul 00.00. Aku memang penasaran, makanya masih bangun. Tapi aku sudah punya niat untuk melihat pengumumannya nanti saja, setelah lihat teman-teman yang lain. Aku takut kecewa. Jadi aku hanya melihat-lihat obrolan orang-orang tentang snmptn.

Paginya, hal yang sama kulakukan lagi. Melototi lepi, melihat timeline dengan kata kunci pencarian 'snmptn'. Banyak yang menunggu jam 12.00, karena pada saat itu web snmptn baru bisa diakses. Tapi aku tidak. Aku sudah punya niat untuk bukanya nanti saja, sepulang les. Karena aku takut hasilnya akan mempengaruhi kejiwaanku, dan pasti les pun tidak akan konsentrasi *cess sok-sokan ya.

Jadi, sambil ditanyai oleh Mama dan adek-adekku tentang hasilnya, aku malah bersiap-siap pergi les. Sebelum benar-benar pergi les, Bapak yang saat itu ada di Malang, menelpon, ya pastinya bertanya bagaimana hasilnya, karena saat itu sudah pukul 12.00. Aku bilang ke Bapak bukanya mau nanti aja, takut, lagian aku mau les. Bapak tetap penasaran dan malah menanyakan NISN dan passwordku. Tetaplah tidak kuberi tahu, aku tetap pada pendirianku, bukanya nanti saja setelah les. Selain Bapak, banyak saudara-saudaraku menelpon Mama, menanyakan hal yang sama seperti Bapak. Kebetulan dari keluarga Bapak atau Mama, aku satu-satunya yang kelas 12 SMA.

Begitu aku siap berangkat les, aku di-bm teman-teman yang sudah membuka hasil snmptn. Mereka bertanya hal yang sama lagi. Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama "Aku mau les, bukanya nanti sepulang les" tapi dengan tambahan, "Kamu gimana?". Jawaban dari mereka membuatku sedih, "gak lolos" "belum beruntung". 

Di antara teman-temanku, ada juga bm dari sahabatku. Kukira dia akan lihatnya nanti belakangan, sama sepertiku, tapi ternyata dia langsung melihat setelah sholat dzuhur (Aku sendiri saat itu sedang tidak sholat). Dia kirim aku capture-an hasil snmptn, gambarnya tidak begitu jelas, tapi kotaknya berwarna merah. Tapi dari caption yang dia tulis, aku tahu kalau dia tidak lolos snmptn. Sahabatku, yang memilih universitas sama denganku, tidak lolos.

Saat itu aku sedang di angkot, rasanya campur aduk, ingin menangis tapi tidak ingin memberi drama pada penumpang angkot lainnya. Ada pemikiran, jangan-jangan aku tidak lolos juga. Aku takut. Tiba-tiba, angkot yang kunaiki menurunkanku di tempat sebelum tujuanku. Aku kesal, karena aku buru-buru, tapi malah diturunin seenaknya. Lalu tiba-tiba muncul pemikiran lagi, aduh apa ini pertanda buruk? Aku tahan amarahku, karena takut segala sesuatu menjadi semakin buruk.

Aku jalan ke NF, begitu sampai di NF, kak Agus(kakak administrasi NF Simpang) sedang berdiri. Aku langsung bertanya "Kak, hari ini NF gak libur kan, ya?". "Enggak, gak libur" jawab Kak Agus. Langsung saja aku berjalan cepat masuk ke kelas. Tiba-tiba Kak Agus berkata, "Diambil gak?"

"Hah? Apa, Kak?"
"Diambil gak?"
"Apanya yang diambil, Kak? Snmptn?"
"Iya"
"Belum lihat, Kaaaak"
"Udah keluar kan hasilnya, udah dilihatin tuh" (sambil nunjuk ke komputer admin NF)
"Eh? Apa? Maksudnya kakak udah lihatin hasil anak-anak NF semuanya?"
"Iya udah semua"
"EEEEHHH?! Stop kak! Jangan kasih tahu saya! Dadaah" (langsung lari ke kelas)

Ternyata kelas masih kosong, aku orang pertama yang datang. Pasti pada lihat hasil snmptn dulu, begitu pikirku. Aku duduk, mengerjakan soal-soal TH Bahasa Indonesia, tapi sambil masih kepikiran kata-kata Kak Agus tadi. Lalu satu per satu teman-teman les datang, saling bertanya bagaimana hasil snmptn, dan aku ikut sedih. Di tengah pelajaran aku dapat sms dari sahabatku yang satu lagi. Dia bilang tidak les, dan dia bilang dia tidak lolos snmptn. Semakin sedih dan takutlah aku di situ.

Begitu pelajaran Bahasa Indonesia selesai, ada jeda istirahat sebentar. Tiba-tiba Kak Agus masuk, "Gimana? Pada dapet gak? Baru Primadhika doang ya yang dapet". Eeeeeeh?! Maksudnya? Teman-teman yang duduk didekatku langsung meluk aku, "Uwaaah Prima selamat ya!". Sementara aku masih diam, tidak percaya. Mataku berat, mau nangis, tapi air matanya tertahan. Tiba-tiba teringat dua sahabatku dan teman-temanku. Aku jadi tak enak. Les pelajaran berikutnya pun aku tidak konsentrasi. Pembahsan Kimia hanya numpang lewat di kepalaku. Pikiranku penuh dengan rasa tak percaya.

Akhirnya pelajaran kimia itu selesai dan ditutup dengan hamdallah. Aku masih diam di tempat duduk dan mengobrol sekenanya dengan teman-teman les. Sebelum akhirnya pamit untuk melihat hasil snmptn di komputer NF.

"Kak, saya mau lihat hasil snmptn dong, kakak gak bohong kan?"
*Kak Agus cuma senyum sambil buka tab baru untuk cek snmptn
"Kak, saya dapet pilihan pertama atau keduanya ditutupin ya, cuma mau lihat ijo-ijonya aja"
"Ijo-ijo?" Kak Ikhsan nimbrung
"Iya, kan kata temen, kalau muncul warna ijo itu lolos, kalau warnanya merah itu gak lolos, ehe"

Setelah loading yg cuma sebentar(di saat tegang seperti ini internetnya malah super cepat, jadi kurang dramatis), aku langsung lihat kotak berwarna hijau dengan nama lengkapku di atasnya. Eh? Apa itu tulisan panjang di bawahnya? Teknologi Industri Pertanian? Aduh sekali baca itu, langsung lemes. Itu pilihan pertamaku. Alhamdulillah.

Kebetulan tumben di NF Simpang ada Kak Rosyadi (guru matematika tapi aku belum pernah diajar beliau). Kak Ros ikut melihat dan ikut mengucap syukur, "Alhamdulillah keterima Brawijaya ya, Dek? Itu pilihan keberapa?". Tanpa sadar aku menjawab, "Alhamdulillah pilihan pertama, Kak. Kebetulan kurang sreg sama pilihan keduanya".

Pilihan keduaku Agribisnis, bukannya terpaksa memilih itu tapi karena menurutku itu mirip-mirip TIP, sama-sama ke arah ekonomi. Agribisnis juga biasanya kerja di bank, oke itu alasanku.

Pulang NF, aku menyebrang dengan sangat hati-hati ke Aditoys dan berdoa segala macam saat naik ojek. Aku mendadak takut sendiri karena punya pikiran, udah dapet universitas jangan sampai malah kenapa-kenapa a.k.a celaka. Biasanya kan kalau di sinetron itu habis senang-senang, eeh pasti dapet musibah, naudzubillah.

Ojek yang kutumpangi turun tidak pas di depan rumahku, aku jadi ingat kejadian aku berangkat naik angkot tadi. Sebelas-dua belas sama ojek pulang. Begitu turun dari ojek dan jalan ke rumah, aku lihat Mama baru mau keluar rumah. Langsung aku samper, udah niat mau buat kejutan.

Entah seperti apa wajahku saat itu, Mama langsung bertanya dan berasumsi sendiri, "Gimana dapet gak? Yaudah kalau gak dapet jangan sedih". Eh? Mama kok seperti ngeremihin aku sih? Uuh di situ muncul ideku untuk nerusin ketidak-tahuan Mama. Aku hanya menjawab, "Nanti lihat hasilnya bareng-bareng ya, Ma".

Di rumah aku pinjam laptop Sinta untuk buka web snmptn, memasukkan password sambil berdoa, semoga hasilnya tidak berubah. Sekali lagi kulihat kotak hijau dengan nama dan jurusan yang masih sama. Lalu tidak lama, Mama pulang, aku langsung minta Mama naik ke kamarku.

"Ma, apa pun hasilnya aku tetep anak Mama kan?"
"Iyalah, Nak. Gapapa, masih ada jalur lain, berjuang sampai titik darah penghabisan"
"Mama, aku sayang Mama"
"Iya Mama juga sayang Mbak Rima"

Begitu kuputar laptopku ke arah pandang Mama, aku langsung menangis, "Ini hasilnya, Ma". Jeda beberapa saat, "Aku lolos, Ma".

Mama langsung mengucap syukur dan menangis, aku bisa lihat Mama gemetaran. "Alhamdulillah ya, Rim! Ini rejekimu! Rejeki, Rim! Mama seneng banget". Mama langsung memelukku, dan kita pun menangis bersama.

"Iya Ma, tapi tadi Mama ngeremehin aku"
"Enggak, Mama gak ngeremehin, Sayang. Habis mukamu sedih gitu tadi"
"Sedih apanya, itu aku senyum-senyum kok, tapi ya terharu lah. Mama ngeremehin aku"
"Iya maafin Mama ya, Nak"
"Temen-temenku banyak yang gak lolos, Ma"
"Iya? Cucu gak dapet?"
"Enggak, Ma"
"Tsaltsa?"
"Enggak juga"
"Ghina? Nadya? (semua yang Mama inget namanya disebut)"
......
......
"Aku udah buat Mama bahagia kan?"
"Iya Mama bahagia banget, rejeki dari Allah ini. Mama mau telpon Bapak, pasti bapak udah penasaran dari tadi"

Mama pun turun ke bawah, dan Dio, adik laki-lakiku satu-satunya, masuk ke kamarku. "Wiih keren, diterima UB ya? Selamat ya". Tumben saat itu Dio tidak menghindar saat kupeluk.

Lalu Sinta naik saat Dio turun dan mengatakan hal yang sama. "Selamat ya" katanya, dan kita juga berpelukan. Lalu dia menanyakan teman-temanku yang lain. Aku langsung teringat kedua sahabatku dan teman-teman baikku. Mereka jalannya belum lewat snmptn. Waspada yang lolos snmptn hanya tiga orang termasuk aku.

Setelah itu aku bm-an sama Bapak, Bapak katanya sampai nangis denger kabar dari Mama.

Tanggal 27 Mei ini ditutup dengan terbelinya 6 tiket pesawat ke Surabaya pada tanggal 14 Juni. Sedikit kalap mungkin, tapi kata adek-adekku sekalian liburan. Tumben-tumbenan Bapak mau beli tiket tanpa pikir panjang. Walau pada akhirnya Mama dan Sinta tidak jadi ikut.

Intinya beberapa hari setelah itu sampai satu bulan lebih, Bapak jadi super baik. Entah ada angin apa. Aku belanja onlen ini itu boleh, main game sampe larut malam boleh, minta anter kemana-mana boleh, mendadak juga jadi royal. Tapi kalau aku jalan-jalan pasti ditanyain, "Kamu di mal sama siapa? Awas kalau sama Cucu". Untungnya udah beberapa hari ini aku sendirian ke mal, "Sendiri kok, emang kenapa kalau sama Cucu?". Bapak langsung jawab "Jangan ganggu Cucu belajar buat sbm". Uuuh terharu aku sama Bapakku.

Tak lama setelah hari-hari aku ke mal sendirian, Tsaltsa minta ditemani ke mal untuk beli sepatu buat Papanya. Kebetulan Bapak nelpon, dan aku bilang lagi di mal sama Sasa, eeh aku dimarahi. "Ngapain lagi kamu ke mal? Jangan ganggu Tsaltsa belajar buat sbm. Blabla".

Aku sayang Keluargaku pokoknya. Di saat susah atau senang, keluarga selalu ada. Semangat buat yg belum jalannya di snmptn. Pasti selalu ada jalan menuju sukses :)

Sunday, May 18, 2014

SMAN 2 KS Graduation Party

 17 May, 2014

with my besties, Cucu si Alay :*

Nisa, Me, Vira

Nadya, Nisa, Nia, Me, Vira

Nopeng with two ladies ahaha

My nail art

Kitty Fams; Kacing(Hanin), Cicing, Macing(Afrina), Decing(Aina)

With exsentric man, Husein


Melani, Me, Qisthin

Prince & Princess Waspada

(biar gak kelihatan yg penting senaang)

Princess Waspada 

Bila, Nia, Me, Hanin, Pinky, Afrina, Enggar

My hair do by saloon

With my little sister, Nindya~

High School Year book's

My beloved Mom :*

My only one brother, Dio~

*ups selfie with Smandaks medal

My hair after I put off  all of the 'jepitan'

Tuesday, April 29, 2014

UN 2014 dan Unek-Uneknya

Haaaaiiiiii~
Aduh aku benci kalau harus menggunakan kalimat "sudah lama tidak blogging", jadi kali ini aku mau pakai kalimat "sudah lama sejak UN berlalu". *ups aku memang lama tidak blogging dari sebelum UN ehe.

Tidak perlu basa-basi, langsung saja ke unek-unek yang mau kuceritakan. Ini semua tentang Ujian Nasional tahun 2014. Pasalnya UN tahun ini memang sangat di luar dugaan, kalau menurutku malah diluar nalar! Menurutku itu soal OSN! Eh tapi waktu 2013 aku pernah ikut seleksi OSN fisika, soalnya gak sesulit itu malah. Aku sempat menduga-duga ini soal perkuliahan, tapi ternyata setelah UN selesai, ada kabar bahwa itu soal INTERNASIONAL! Well yeah. Seharusnya kalau mau begitu ganti dulu namanya, bukan Ujian Nasional tapi Ujian Internasional!

Aku benar-benar heran dengan pihak "berpendidikan" yang mengatur perihal pendidikan di Indonesia. Apasih yang mereka inginkan? Meningkatkan standarisasi? Menguji kemampuan siswa? Atau mempersulit siswa? Ok, pasti jawabannya yg pertama atau semacamnya. Tapi menurutku, standarisasi pendidikan di Indonesia itu sudah bagus. Pelajaran yang kami terima sebagai siswa SMA di Indonesia sudah bisa dipastikan lebih sulit daripada yang diterima siswa SMA di kebanyakan negara(mungkin ada beberapa yg lebih sulit, hanya beberapa). 

Tapi kenapa mereka terlihat lebih unggul? yang membuat siswa sana lebih unggul adalah mereka dapat mempraktikan apa yang mereka pelajari. Sedangkan kita tidak, karena kita hanya belajar seputar teori, teori dan sedikit sekali praktikum. Karena di Indonesia praktikum tidak masuk Ujian Nasional. Kalau ingin menyamakan dengan standar sekolah-sekolah internasional, bukan begini caranya. Tanpa kita tahu-menahu soal UN yang disodorkan adalah soal taraf internasional, sedangkan selama ini kita belajar dari DETIK yang dari tahun ke tahun selalu sejalan dengan soal UN, kecuali tahun 2014 ini. Uh!

Ada banyak unek-unek lain, tapi aku takut terbawa emosi. Salah satunya tentang tingkat kesulitan soal yang tidak sama. Bagaimana bisa 20 paket soal berbeda memiliki tingkat kesulitan yang sama, benar-benar sama. Pasti ada beberapa soal yang lebih sulit atau malah lebih mudah. Aku mungkin salah satu dari yang mendapat soal sulit. Walaupun sulit mudahnya soal itu relatif. 

Untuk lebih banyak unek-unek, aku baru baca "Surat Terbuka untuk Bapak Menteri Pendidikan: Dilematika Ujian Nasional" karya Nurmillaty Abadiah, siswi SMA yang baru mengikuti UN seperti aku. Aku setuju dengan dia! Love her writing so much! Dia mewakili seluruh suara siswa/siswi SMA. 

Tapi di situ aku juga jadi kesal dengan komentar Bapak "berpendidikan" yang dituju. Beliau tidak percaya kalau itu tulisan anak SMA, dengan alasan tulisannya terlalu bagus, mustahil ditulis anak SMA. HELLOO! Aku sedih, secara tidak langsung beliau memperlihatkan ketidak tahuan beliau mengenai prestasi siswa di bidang non-akademik, tulis menulis. Coba lihat, sudah banyak siswa SMA yang menang karya tulis ilmiah remaja, dan tidak kalah banyak siswa SMA yang sudah menulis novel dan diterbitkan oleh penerbit ternama.

Aku siswi SMA dan aku suka dunia tulis menulis, jadi aku percaya kalau itu asli tulisan Nurmillaty. Kelihatan jelas perbedaannya orang yang sering menulis dengan orang yang jarang menulis. Nurmillaty jelas sekali terlihat sering menulis, dari susunan kalimatnya yang apik, dan bahasanya yang halus. Apa Bapak "berpendidikan" itu merasa bahasanya terlalu baku? Hello again. Aku suka menulis dari SMP, dan saat menulis cerpen pun aku menggunakan bahasa yg baku. Aku baru sadar saat SMA, aku dapat komentar dari teman, "Prim, cepenmu bagus, tapi bahasanya baku amat". Maka dari itu sekarang aku tidak menggunakan bahasa yang terlalu baku lagi dalam menulis cerpen.

Nah wajar 'kan, Nurmillaty menulis dengan begitu baku, karena jelas saja, dia ingin menulis surat untuk Bapak "berpendidikan". Masa' iya Nurmillaty menulis dengan bahasa gaul dan kalimatnya acak-acakan untuk Bapak 'berpendidikan". Beliau juga pasti malah tidak akan mau membaca yang seperti itu 'kan. Ah sudahlah aku bingung dan semakin emosi.
"Indonesia ingin penerus bangsanya berpendidikan dan berbudi pekerti luhur, tetapi pendidikan di Indonesia mempersulit penerus bangsa itu sendiri dan membunuh budi perkerti luhur mereka secara tidak langsung."
Apa salah mendengarkan kata hati kami? Apa salah jika kami ingin mendapat keadilan? Apa salahnya sekedar mengoreksi diri? Apa salah kami? Kenapa kami yang selalu salah dan "orang dewasa" selalu benar? Kami memang hanya siswa/siswi SMA tapi kamilah yang nantinya menggantikan posisi kalian. Jujur saja, akui kesalahan, perbaiki sebisanya, maka dunia akan damai, ahahahaha :")

*semoga Allah bersama dengan orang-orang jujur